Minggu, 20 Maret 2011

resensi novel

RESENSI NOVEL

Judul Buku          :               MATAHARI DI ATAS GILLI
Penulis                 :               LINTANG SUGIANTO
Penerbit              :               BEKASI
Tanggal                 :               06 OKTOBER 2004
Tebal Halaman  :               225 HALAMAN
SINOPSIS:
                Cerita ini dimulai dari sebuah wilayah di Madura, tepatnya di pulau Gilli. Di tepi dermaga duduk seorang wanita yang tengah hamil bernama “Suhada” ia sedang menuggu suaminya pulang, bernama “Suamar” . suhada tinggal bersama ibu angkatnya “Buk No” pemilik satu-satunya warung nasi di Gilli.
                Suhada adalah seorang wanita yang dari masa kanak-kanaknya hidup kurang beruntung, ia ditinggal orang tuanya sejak kecil dan hidup berpindah-pindah. Setelah dewasa ia bertemu Suamar di Cirebin, mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Setelah itu Suhada diajak suaminya untuk tinggal di Gilli, diamana kedua orang tua Suamar tinggal. Dari pernikahannya itu Suhada kini hamil, tetapi Suamar yang hanya seorang pembua perahu harus pergi meninggalkannya, untuk membuat perahu di Cilacap.
                Gilli adalah pulau kecil yang panas dan gersang, hujan jarang turun disana, pulau ini seperti berada disamping matahari. Hanya ada satu buah sekolah di sana dan Suhada adalah salah satu guru di sekolah tersebut.
                Hari demi hari berlalu, kandungan Suhada semakin tua, tetapi Suamar belum juga pulang. Suatu ketika dating kabar dari seseorang yang mengatakan Suamar kecelakaan dan sekarang dirawat di sebuah rumah sakit.
Keluar dari Rumah sakit Suamar pulang ke Gilli, tetapi diperjalanan dihadang oleh badai laut yang ganas.
                Suhada mulai merasakan sakit pada perutnya, mungkin inilah waktunya untuk melahirkan, tetapi ia tetap sendiri, ia hanya ditemani matahari sore yang tepat diatas Gilli.
Di rumah Pak Lurah Suhada melahirkan. Sementara itu Suamar telah sampai di dermaga Gilli. Ditemani sinar bulan Suamar melangkah di dermaga. Suamar memutar di belakang, dibawah lampu dermaga melihat sosok wanita berpakaian putih, berambut panjang memandang dirinya tajam.
Dengan kaki masih terluka ia berjalan mendekati wanita itu, ia tahu pasti itu adalah istrinya Suhada. Suamar memeluk tubuh istrinya, tetapi Suhada mendorongnya. Suhada kemudian berjalan cepat dan berenti tepat di halaman rumah pak lurah. Suhada berkata: “ Anak kita beri nama Sabam, ia anak laki-laki, cepat masuk dan gendonglah ia”.
Suamar masuk kedalam rumah Pak lurah meninggalkan Suhada di halaman, tetapi setelah ia didalam, ia terkejut karena disana ia temui jasad kaku istrinya Suhada, Suhada meninggal karena melahirkan.
                Lima tahun kemudian, Gilli sudah berkembang pesat dan memiliki 2 dermaga, yang satu tetap bersebrangan dengan warung Buk No, sedangkan yang lain mirip dengan sebuah pasar yang hidup jika malam menjelang. Sedangkan Suamar yang sudah lagi tidak bersemangat hidup sejak istrinya meninggal hanya bisa menatap kearah langit di tepi dermaga yang dinamai dermaga hada.
Keyakinan Suamar adalah Suhada masih hidup dan ini berbenturan dengan warga Gilli. Inilah yang membuat kedua orang tua Suamar sedih karena masyarakat menganggap Suamar tidak waras.
                Suatu ketika Suamar berlari ke dermaga dan memaksa pemilik kapal membawanya pergi dari Gilli mencari Suhada. Dari sejak kepergiannya inilah ia tidak pernak kembali lagi.
Sampai pada musim hujan kesekian kalinya, terdengar kabar tentang Suamar. Melalui telephone ia mengatakan akan pulang ke Gilli bersama istrinya Suhada.
                Keesokkan harinya kabar tersebut tersiar, ditemukan sesosok mayat laki-laki diduga terjatuh dari kereta api, dan saat ini sedang diidentifikasi di rumah sakit umum semarang.

Unsur-unsur interinsik:
1.       Tema     : Tragedi Cinta
2.       Amanat                : Setiap orang harus sabar dalam menghadapi cobaan hidup dan tetap tegar agar kedepannya hidup menjadi lebih baik.
3.       Tokoh dan Perwatakkan
Protagonist :      1. Suhada
                                2. Sabam
Antagonis     :     Suamar
Tritagonis     :      1. Buk No
                                2. Pak Lurah
4.       Setting/ latar : Pulau kecil di Madura bernama Gilli.
5.       Alur/plot       : campuran
6.       Gaya pengungkapan : Bahasa lugas & bahasa konotasi.
7.       Keunggulan :
Novel ini terbit disaat kita memerlukan novel islami di Indonesia, novel ini juga mengangkat ketidakadilan dalam pendidikan yang banyak dialami daerah terpencil di sekitar pulau jawa disbanding dengan di kota besar.
Karya ini mengingatkan sekaligus membangkitkan rasa rasionallismeyang tanpa disadari telah hilang secara perlahan.
8.       Kelemaahan :
Kekurangan novel ini terletak pada suatu kesalalan yang menempatkan rangkaian cerita mengenai Gilli, diceritakan setelah cerita mengenai Suhada. Dengan judul matahari di atas Gilli seharusnya keadaan Gilli diceritakan terlebih dahulu agar orang mengenal letak Gilli di Indonesia.
9.       Kesimpulan
Tanpa mengesampingkan kekurangan yang dimiliki novel ini patut dujadikan bahan pemikiran demi kebaikan bangsa Indonesia yang sedang menata diri, karena novel ini bukanlah gambaran tentang kota tropis seperti yang sering digambarkan para filosof, namun potret kehidupan nyata yang dikemas dalam cerita novel yang dapat membuat semangat dan enak dibaca.

Jumat, 07 Januari 2011

paragraf INDUKTIF


Model Client Server

Trend dari sistem operasi modern adalah memindahkan kode ke lapisan yang lebih tinggi dan menghapusnya sebanyak mungkin dari sistem operasi sehingga akan meninggalkan kernel yang minimal. Konsep ini biasanya diimplementasikan dengan cara menjadikannya fungsi-fungsi yang ada pada sistem operasi menjadi user proses. Jika suatu proses minta untuk dilayani, misalkan saja satu blok file, maka user proses (client server) mengirim permintaan tersebut ke server proses. Server proses akan melayani permintaan tersebut ke server proses. Server proses akan mealyani permintaan tersebut kemudian mengirimkan jawabannya kembali. Pada model ini, semua pekerjaan kernel ditekankan pada pengendalian komunikasi antara client dan server.

Minggu, 14 November 2010

Antara Menulis dan Berbicara


ANTARA MENULIS DAN BERBICARA

Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga untuk mendengar kata yang diucapkan, dan lidah berusaha untuk mengikutinya dengan kata yang kita upayakan untuk dikeluarkan. Itu sebabnya, anak kecil yang sehat dan normal (matanya dapat melihat, telinganya dapat mendengar, dan lidahnya bisa digerakkan untuk berkata) maka umumnya akan dengan mudah mengikuti. (1)Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi. Jadi, anak kecil yang ingin belajar bicara tak memerlukan belajar huruf-huruf terlebih dahulu, tak butuh juga dengan seabrek teori menulis, dan bagaimana merangkai kata yang baik. Ia, akan dengan spontan mengikuti setiap huruf yang diucapkan orang lain (entah ibunya, ayahnya, kakaknya, atau temannya dll).(2) Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit. Mengalir apa adanya.

Nah, sementara menulis, ini memerlukan keterampilan tambahan. Bahkan motivasi tambahan pula. Karena apa? Karena menulis bukan bakat, karena menulis memang sangat berbeda dengan berbicara. (3)Banyak orang bisa berbicara, bahkan fasih meski ternyata ia buta huruf. Sementara orang yang bisa menulis, sangat mustahil bila ia penderita buta huruf. Mungkin ini pula yang membedakan kemampuan setiap orang dalam menulis. Intinya, nggak semua orang bisa menulis, meski berbicaranya sangat fasih dan bahkan retorikanya bagus. Oya, meski bicaranya tidak bagus, tapi minimal ia memang bisa bicara. Bisa berkomunikasi secara verbal (kata-kata) dengan orang lain. Iya nggak?

Jadi menurut saya sih, orang yang bisa menulis adalah orang yang seharusnya merasa bahagia. Karena apa? Karena bisa melakukan keterampilan yang jarang dilakukan oleh orang yang sehat dan normal lainnya. Umumnya, semua orang yang sehat dan normal bisa berbicara, tapi tak semua dari mereka bisa menulis. Ini pun dikelompokkan jadi dua: pertama, orang yang tidak bisa menulis sama sekali alias buta huruf; dan kedua, orang yang tidak bisa menulis dalam pengertian menyampaikan pesan lewat tulisan. Dari dua kelompok itu, mereka sama-sama bisa berbicara, tapi nggak bisa menulis. Betul ndak?


Ayo menulis!

(4)Alirkan ide-idemu untuk berkarya lewat tulisan.(5) Rugi banget kalo sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat tulisan. Padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara. Kita emang bisa menyampaikan pesan lewat kata-kata (berbicara), tapi tak selamanya pesan bisa sampe dengan mudah. Jika kamu menelepon seseorang, ingin mengerahkan kemampuanmu untuk menyampaikan kehebatanmu dalam berbicara untuk mempengaruhi dia, sementara ponselnya pas kamu nelepon nggak diaktifkan, itu artinya ada hambatan. Apa yang ingin kamu sampaikan menemui jalan buntu. Minimal harus menunggu sampe ponsel temanmu diaktifkan.

Dan lagi nih, kamu tentunya nggak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siap untuk menelepon. Adakalanya, kamu justru berada dalam kondisi harus menyampaikan pesan lewat tulisan. Misalnya kamu sibuk, sementara untuk memberi tahu teman kamu dengan berbicara di telepon akan memakan waktu, apalagi kalo kamu seneng ngobrol. Maka, langkah efektif adalah dengan mengirim SMS ke ponselnya, atau mungkin kirim e-mail, atau bisa aja nulis memmo untuknya karena ketika kita sampe ke rumahnya dia nggak ada. Kita tempelin deh memmo berisi pesan tertulis kita. Tapi, itu pun masih dengan catatan: ia aktifkan ponselnya; buka e-mail, dan tak sedang keluar kota. Berarti ini soal kendala teknis. Terlepas dari itu, keterampilan menulis tetap harus dimiliki. Minimal sebagai keterampilan pelengkap untuk menyampaikan pesan bagi yang sudah terbiasa dan mahir retorikanya dalam berbicara. Setuju?

Sobat, nggak usah dibikin rumit ketika kita akan menulis. Saya juga termasuk yang bisa menulis bukan berawal dari teori. Saya menulis, kalo saya pengen nulis apa yang membuat saya lega ketika menuliskannya. Saya menulis surat buat teman dan orangtua saya, menulis puisi, menulis catatan harian, bahkan saya menulis cerpen meski ketika dibaca lagi seringnya nggak nyambung. Tapi, saya berkeras ingin bisa menulis. Waktu SMP, ketika seneng nulis, saya nggak punya mimpi jadi penulis. Saya hanya seneng aja setiap kali membaca buku sejak SD. Dalam pikiran saya, “Saya bisa membaca dan mudah untuk mengerti pesan yang disampaikan penulisnya, pasti si penulis itu adalah orang yang hebat dalam menyampaikan pesan secara tertulis.” Sejak saat itu saya secara sederhana ingin juga bisa menulis. Tapi tetep belum kepikiran ingin jadi penulis.

Hasilnya? Alhamdulillah, rupanya pembiasaan dalam menulis apa saja yang ingin saya tulis, sekaligus sebagai latihan ‘alamiah’ untuk melancarkan jari tangan saya menulis (waktu itu saya belum punya mesin tik, apalagi komputer). (6)Kebiasaan saya menulis bukan hanya melancarkan jari tangan saya menulis di kertas, tapi sekaligus melatih pilihan kata yang hendak saya tulis dan juga melancarkan sistematika dalam alur penulisan pesan yang saya inginkan. Inilah uniknya keterampilan menulis. Setidaknya menurut saya, lho.

Jadi, biasakan untuk melatih menulis. Terus dan terus. Nggak usah ada beban dulu. Pokoknya nulis. Jangan takut salah, nggak perlu khawatir tulisannya nggak enak dibaca, yang penting mencoba dan terus belajar. Salah-salah dikit sih kita bisa menghibur diri dengan nyontek semboyan di iklan pembersih pakaian, “Nggak ada noda, ya nggak belajar”. (7)Menulis itu butuh ketekunan, jangan patah semangat jika baru nulis sekali dan jelek. Itu belum cukup, kalo kamu nggak terus melatih diri untuk menulis. Bukankah benteng Mesir tidak ditaklukkan dengan sekali peperangan? Bukankah ketika kita belajar menuliskan abjad dan angka saja nggak sekali langsung bisa? Ya, belajar menulis tidak instan, tapi harus ditekuni dan sabar, serta penuh semangat, plus motivasi kuat.

Oya, sebenarnya bicara juga membutuhkan keterampilan tambahan, meski awalnya ‘naluriah’, tapi tetap kudu dipelajari bagaimana santun dalam berbicara, berkata yang baik, dan apa yang harus dikatakan dengan tepat kepada siapa yang diajak bicara. Nah, untuk tingkat lanjutannya sih memang harus belajar juga. (8)Sama seperti menulis. Tapi, langkah awalnya aja yang beda. Start-nya yang beda. Kalo berbicara, secara ‘naluriah’ sejak kecil kita yang sehat dan normal langsung udah belajar dan bahkan bisa bicara, sementara menulis (menuliskan abjad dan angka), minimal rata-rata bisa nulis secara umum adalah ketika kita diajarin di sekolah (meski sebelum sekolah kita udah pada bisa bicara). betul nggak?

Sobat, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin tekankan bahwa ada yang perlu diperhatikan dan diingat, bahwa jika kita nggak bisa menulis dengan baik, maka pesan itu pun sulit juga dimengerti oleh pembaca tulisan kita. Sebagai pemberi pesan (komunikator), tentunya kita harus sebaik mungkin dalam menyampaikan pesan agar mudah dipahami oleh komunikan alias si penerima pesan. Tentunya, untuk semua itu yang dibutuhkan bukan hanya kebiasaan kita menulis, tapi juga ilmu dan wawasan buat tambahan kita. Yup, agar pesan yang kita sampaikan juga dimengerti, bahkan dipahami dengan mudah oleh penerima pesan. Soal ini, insya Allah akan saya jembrengin di lain kesempatan. Setuju ya?

Oke deh, sampe sini dulu. Insya Allah lain kali saya cerita lagi. Ayo menulis! [o. solihin. bogor, 9 Januari 2006; 09:25 wib]


Pilihan kalimat :
  1. Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi.
S                                 P                                                                             Ket
Kalimat ini tidak sempurna kata itu akan lebih baik jika ditambahkan kata yang dijadikan acuan dari “itu” tersebut.
Menjadi :
Berbicara itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi.
  1. Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit
      S        P          S                                     P
  1. Banyak orang bisa berbicara, bahkan fasih meski ternyata ia buta huruf.
S           P                     KM                  S                   Ket
  1. Alirkan ide-idemu untuk berkarya lewat tulisan
S                                              P
  1. Rugi banget kalo sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan
         S                            P                                                             O
 lewat tulisan. Padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara.
                       KM                         S                                                             P
Kalimat ini menunjukkan kesalahan pada kata penghubung, seharusnya kata penghubung tidak digunakan tanda titik sebelum penggunaan kata hubung (padahal) tersebut.
Menjadi :
Rugi banget kalo sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat tulisan padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara.
  1. Kebiasaan saya menulis bukan hanya melancarkan jari tangan saya menulis di kertas, tapi
S                             P                                                                     O       KM
 sekaligus melatih pilihan kata yang hendak saya tulis dan juga melancarkan sistematika dalam
                S                                              P             KM                              S
 alur penulisan pesan yang saya inginkan
                                        Ket
  1. Menulis itu butuh ketekunan, jangan patah semangat jika baru nulis sekali dan jelek.
                S                  P                              S                             P                 KM    Ket
  1. Sama seperti menulis. Tapi, langkah awalnya aja yang beda. 
                   S              P      KM              S                         P
Pada kata penghubung terjadi kesalahan karena penggunaan titik pada kata penghubung, dimana seharusnya kata penghubung tidak mengandung titik.
Menjadi :
Sama seperti menulis tapi, langkah awalnya aja yang beda.

Minggu, 17 Oktober 2010

ANTARA MENULIS DAN BERBICARA


ANTARA MENULIS DAN BERBICARA

Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh (1)pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga untuk mendengar kata yang diucapkan, dan lidah berusaha untuk mengikutinya dengan kata yang kita upayakan untuk dikeluarkan. Itu sebabnya, anak kecil yang sehat dan normal (matanya dapat melihat, telinganya dapat mendengar, dan lidahnya bisa digerakkan untuk (2)berkata) maka umumnya akan dengan mudah mengikuti. Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan (3)reflek tiga indera tadi. Jadi, anak kecil yang ingin belajar bicara tak memerlukan belajar huruf-huruf terlebih dahulu, tak butuh juga dengan(4) seabrek teori menulis, dan bagaimana merangkai kata yang baik. Ia, akan dengan spontan mengikuti setiap huruf yang diucapkan orang lain (entah ibunya, ayahnya, kakaknya, atau temannya dll). Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit. Mengalir apa adanya.

Nah, sementara menulis, ini memerlukan keterampilan tambahan. Bahkan motivasi tambahan pula. Karena apa? Karena menulis (5)bukan bakat, karena menulis memang sangat berbeda dengan berbicara. Banyak orang bisa berbicara, bahkan fasih, meski ternyata ia (6)buta huruf. Sementara orang yang bisa menulis, sangat mustahil bila ia penderita buta huruf. Mungkin ini pula yang membedakan kemampuan setiap orang dalam menulis. Intinya,(7) nggak semua orang bisa menulis, meski berbicaranya sangat fasih dan bahkan retorikanya bagus. Oya, meski bicaranya tidak bagus, tapi minimal ia memang bisa bicara. Bisa berkomunikasi secara verbal (kata-kata) dengan orang lain. Iya nggak?

Jadi menurut saya sih, orang yang bisa menulis adalah orang yang seharusnya merasa bahagia. Karena apa? Karena bisa melakukan keterampilan yang jarang dilakukan oleh orang yang sehat dan normal lainnya. Umumnya, semua orang yang sehat dan normal bisa berbicara, tapi tak semua dari mereka bisa menulis. Ini pun dikelompokkan jadi dua: pertama, orang yang tidak bisa menulis sama sekali alias buta huruf; dan kedua, orang yang tidak bisa menulis dalam pengertian menyampaikan pesan lewat tulisan. Dari dua kelompok itu, mereka sama-sama bisa berbicara, tapi nggak bisa menulis. (8)Betul ndak?


Ayo menulis!

Alirkan ide-idemu untuk berkarya lewat tulisan.(9) Rugi banget (10)kalo (11)sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat tulisan. Padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara. Kita (12)emang bisa menyampaikan pesan lewat kata-kata (berbicara), tapi (13)tak selamanya pesan bisa sampe dengan mudah. Jika kamu menelepon seseorang, ingin mengerahkan kemampuanmu untuk menyampaikan kehebatanmu dalam berbicara untuk mempengaruhi dia, sementara ponselnya (14)pas kamu nelepon nggak diaktifkan, itu artinya ada hambatan. Apa yang ingin kamu sampaikan menemui jalan buntu. Minimal harus menunggu sampe ponsel temanmu diaktifkan.

Dan lagi nih, kamu tentunya nggak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siap untuk menelepon. Adakalanya, kamu justru berada dalam kondisi harus menyampaikan pesan lewat tulisan. Misalnya kamu sibuk, sementara untuk (15)memberi tahu teman kamu dengan berbicara di telepon akan memakan waktu, apalagi kalo kamu (16)seneng (17)ngobrol. Maka, langkah efektif adalah dengan mengirim SMS ke ponselnya, atau mungkin kirim e-mail, atau (18)bisa aja (19)nulis (20)memmo untuknya karena ketika kita sampe ke rumahnya dia nggak ada. Kita (21)tempelin deh memmo berisi pesan tertulis kita. Tapi, itu pun masih dengan catatan: ia aktifkan ponselnya; buka e-mail, dan tak sedang keluar kota. Berarti ini soal kendala teknis. Terlepas dari itu, keterampilan menulis tetap harus dimiliki. Minimal sebagai keterampilan pelengkap untuk menyampaikan pesan bagi yang sudah terbiasa dan mahir retorikanya dalam berbicara. Setuju?

Sobat, nggak usah (22)dibikin rumit ketika kita akan menulis. Saya juga termasuk yang bisa menulis bukan berawal dari teori. Saya menulis, kalo saya (23)pengen nulis apa yang membuat saya lega ketika menuliskannya. Saya menulis surat (24)buat teman dan orangtua saya, menulis puisi, menulis catatan harian, bahkan saya menulis cerpen meski ketika dibaca lagi seringnya nggak nyambung. Tapi, saya berkeras ingin bisa menulis. Waktu SMP, ketika seneng nulis, saya nggak punya mimpi jadi penulis. Saya hanya seneng aja setiap kali membaca buku sejak SD. Dalam pikiran saya, “Saya bisa membaca dan mudah untuk mengerti pesan yang disampaikan penulisnya, pasti si penulis itu adalah orang yang hebat dalam menyampaikan pesan secara tertulis.” Sejak saat itu saya secara sederhana ingin juga bisa menulis. Tapi (25)tetep belum (26)kepikiran ingin jadi penulis.

Hasilnya? Alhamdulillah, rupanya pembiasaan dalam menulis apa saja yang ingin saya tulis, sekaligus sebagai latihan ‘alamiah’ untuk melancarkan jari tangan saya menulis (waktu itu saya belum punya mesin tik, apalagi komputer). Kebiasaan saya menulis bukan hanya melancarkan jari tangan saya menulis di kertas, tapi sekaligus melatih pilihan kata yang hendak saya tulis dan juga melancarkan sistematika dalam alur penulisan pesan yang saya inginkan. Inilah uniknya keterampilan menulis. Setidaknya menurut saya, lho.

Jadi, biasakan untuk melatih menulis. Terus dan terus. (27)Nggak usah ada beban dulu. Pokoknya nulis. Jangan takut salah, nggak perlu khawatir tulisannya nggak enak dibaca, yang penting mencoba dan terus belajar. Salah-salah (28)dikit sih kita bisa menghibur diri dengan (29)nyontek semboyan di iklan pembersih pakaian, “Nggak ada noda, ya nggak belajar”. Menulis itu butuh ketekunan, jangan patah semangat jika baru nulis sekali dan jelek. Itu belum cukup, kalo kamu nggak terus melatih diri untuk menulis. Bukankah benteng Mesir tidak ditaklukkan dengan sekali peperangan? Bukankah ketika kita belajar menuliskan abjad dan angka saja nggak sekali langsung bisa? Ya, belajar menulis tidak instan, tapi harus ditekuni dan sabar, serta penuh semangat, plus motivasi kuat.

Oya, sebenarnya bicara juga membutuhkan keterampilan tambahan, meski awalnya ‘naluriah’, tapi tetap (30)kudu dipelajari bagaimana santun dalam berbicara, berkata yang baik, dan apa yang harus dikatakan dengan tepat kepada siapa yang diajak bicara. Nah, untuk tingkat lanjutannya sih memang harus belajar juga. Sama seperti menulis. Tapi, langkah awalnya aja yang beda. (31)Start-nya yang beda. Kalo berbicara, secara ‘naluriah’ sejak kecil kita yang sehat dan normal langsung (32)udah belajar dan bahkan bisa bicara, sementara menulis (menuliskan abjad dan angka), minimal rata-rata bisa nulis secara umum adalah ketika kita (33)diajarin di sekolah (meski sebelum sekolah kita udah pada bisa bicara). betul nggak?

Sobat, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin tekankan bahwa ada yang perlu diperhatikan dan diingat, bahwa jika kita nggak bisa menulis dengan baik, maka pesan itu pun sulit juga dimengerti oleh pembaca tulisan kita. Sebagai pemberi pesan (komunikator), tentunya kita harus sebaik mungkin dalam menyampaikan pesan agar mudah dipahami oleh komunikan alias si penerima pesan. Tentunya, untuk semua itu yang dibutuhkan bukan hanya kebiasaan kita menulis, tapi juga ilmu dan wawasan buat tambahan kita. Yup, agar pesan yang kita sampaikan juga dimengerti, bahkan dipahami dengan mudah oleh penerima pesan. Soal ini, insya Allah akan saya jembrengin di lain kesempatan. Setuju ya?

Oke deh, sampe sini dulu. Insya Allah lain kali saya cerita lagi. Ayo menulis! [o. solihin. bogor, 9 Januari 2006; 09:25 wib]

Pembenaran dari Kata-kata yang mengalami salah ejaan:
  1. Kata Pembiasaan seharusnya kita ganti dengan Rutin, karena kata pembiasaan tidak baku untuk suatu penulisan.
  2. Berkata dapat kita ganti dengan berbicara karena kaidah penulisan berkata tidak tepat untuk kalimat diatas.
  3. Reflek kata ini salah penulisan yang benar adalah reflex.
  4. Seabrek kata ini sangat tidak baik dalam suatu penulisan kata ini dapat kita ganti dengan kata banyak atapun banyak sekali.
  5. Bukan bakat kata yang lebih baik kita gunakan untuk kalimat ini adalah tidak bakat.
  6. Buta huruf sangat kasar sebaiknya kita gunakan tuna aksara.
  7. Nggak adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah tidak
  8. Betul ndak? adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah betul tidak?
  9. Rugi banget adalah kata yang tidak baku untuk digunakan seharusnya kata itu adalah rugi sekali.
  10. Kalo adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah kalau
  11. Sampe adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah sampai
  12. Emank adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah memang
  13. Tak adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah tidak
  14. Pas adalah bentuk kata yang tidak tepat digunakan dalam tulisan kita dapat menggatinya dengan saat bersamaan.
  15. Memberi tahu kata ini salah dalam pemisahan seharusnya memberitahu.
  16. Seneng adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah senang.
  17. Ngobrol kata ini tidak baik untuk artikel seharusnya digunakan kata berbicara untuk ini.
  18. Bisa aja adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah bisa saja.
  19. Nulis adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah menulis.
  20. Memmo adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah memo.
  21. Tempelin adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah menempelkan
  22. Dibikin adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah dibuat.
  23. Pengen adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah ingin.
  24. Buat temen adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah untuk teman.
  25. Tetep adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah tetap.
  26. Kepikiran adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah terpikir.
  27. Nggak usah adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah tidak perlu.
  28. Dikit adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah sedikit.
  29. Nyontek kata ini salah dalam penggunaan imbuhan seharusnya mencontek.
  30. Kudu kata ini sangat tidak baku seharusnya kita gunakan kata harus.
  31. Start_nya beda, kata ini tidak baik digunakan sebaiknya kita ganti dengan awalan yang berbeda
  32. Udah adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah sudah.
  33. Diajarin adalah kata yang tidak baku seharusnya kata itu adalah diajarkan.

MITOS SI MANIS JEMBATAN ANCOL

MITOS SI MANIS JEMBATAN ANCOL 
 
                      Cerita dari mulut ke mulut dikalangan warga sekitar Jalan RE Martadinata,Ancol,Jakarta Utara, mengenai amblesnya ruas jalan sepanjang 103 dan panjang 4 meter Kamis(16/9) dini hari,terus berkembang bahkan ditambai bumbu-bumbu berbau mistik. Apalagi, dari sisi letaknya ambrol jalan Martadinata itu tepat berada di bibir jembatan Solo Bone yang selama ini dimitoskan sebagai tempat istirahat Si Manis Jembatan Ancol. 
                        Jalan vital yang menghubungkan Pelabuhan Tanjungpriok dengan pusat Jakarta itu ambles hingga sedalam 7 meter. Hingga semalam warga sekitar tak henti-henti berdatangan ke tempat tersebut. “Kami penasaran, katanya Kemaren malam lalu ada buaya lewat”. Kata seorang warga merujuk kepada cerita warga lainnya mengenai buaya jadi-jadian di tempat itu. 
                        Warga meyakini, ditempat itu sering muncul kejadian-kejadian aneh. Mereka sering mendengar kabar adanya ular dan buaya jadi-jadian yang setiap malam Jum’at melintas di jembatan Volker, tak jauh dari lokasi ambruknya jalan. “Orang disekitar sini udah pada tau kalo ada buaya gak punya ekor. Kadang-kadang ada ular yang ngikutin karena ‘penghuni’ kawasan disitu laper. “mereka marah karena sajennya kurang, karena itulah mereka berulah dengan merusak jalan sampe ambles begitu”. Kata Ratu saat dihubungi Warta Kota semalam. 
                           Supranatural dari suku anak dalam berjuluk “Ratu Ayu Berlidah Hitam” ini mengungkapkan, ada tiga penunggu di Jalan Martadinata, semuanya laki-laki. “ketika masih idup, tiga-tiganya punya pengaruh ditempat itu” katanya. 
                           Lalu, apa solusinya? Ratu Ayu mengatakan, saat pembangunan kembali jalan itu perlu dilakukan ritual dalaman bentuk pemberian sajen. Apabila tidak, tidak tertutup kemungkinan kejadian yang sama akan terulang. “Saya tidak menambah dan menguranginya, ini berdasar terawangan saya.” Kata anggota Forum Komunikasi Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia(FKPPAI) yang mengaku menerawang hingga Malaysia dan Singapura itu. 

Kata-kata yang mengalami salah ejaan: 
Kata-kata salah:                                  Seharusnya: 
1.ambrol                                            1.rusak 
Alasan : kata ambrol tidak baik gunakan untuk penulisan. 
2.ditambai                                         2.ditambahi 
Alasan : kata ditambai hanya dapat digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
3.katanya                                         3.menurutnya 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
4.buaya lewat                                  4.seekor buaya melintas 
Alasan : dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik seharusnya tidak menggunakan kata seperti lewat ini. 5.kata seorang warga                     5.menurut seorang warga 
Alasan : kata ditambai hanya dapat digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
6.jadi-jadian                                  6.siluman 
Alasan : kata jadi-jadian kurang baik digunakan dalam berita, karena banyak kesan yang buruk yang d timbulkan. 
7.ambruknya                                  7.rusaknya 
Alasan : kata ambruk member kesan bahasa yang digunakan kasar. 
8.udah pada tau                           8.sudah mengetahui 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
9.kalo ada buaya                         9.kalau ada seekor buaya 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari, bukan kata yang baik untuk berita.
10.gak punya ekor                    10.tidak memiliki ekor 
Alasan: kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
11.ngikutin                               11.mengikuti 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
12.laper                                   12.lapar 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
13.sajennya                             13.sesajinya 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
14.sampe                                14.sampai 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
15.tiga-tiganya                        15.ketiganya 
Alasan : akan lebih baik jika kita gunakan kata ketiganya daripada tiga-tiganya karena borosnya kata yang digunakan. 
16.punya pengaruh                  16.memiliki pengaruh 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
17.terawangan                        17.penglihatan mata batin 
Alasan : terawang adalah kata yang tidak dikenal oleh orang awam untuk bahasa indonesia 
18.kemaren                           18.kemarin 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
19.kadang-kadang               19.terkadang 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari. 
20.idup                                20.hidup 
Alasan : kata seperti ini hanya digunakan dalam obrolan sehari-hari.