ANTARA MENULIS DAN
BERBICARA
Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya
membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih.
Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan
ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk
melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara,
terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga untuk mendengar kata
yang diucapkan, dan lidah berusaha untuk mengikutinya dengan kata yang kita
upayakan untuk dikeluarkan. Itu sebabnya, anak kecil yang sehat dan normal
(matanya dapat melihat, telinganya dapat mendengar, dan lidahnya bisa
digerakkan untuk berkata) maka umumnya akan dengan mudah mengikuti. (1)Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah
kemampuan dan reflek tiga indera tadi. Jadi, anak kecil yang ingin belajar
bicara tak memerlukan belajar huruf-huruf terlebih dahulu, tak butuh juga
dengan seabrek teori menulis, dan bagaimana merangkai kata yang baik. Ia, akan
dengan spontan mengikuti setiap huruf yang diucapkan orang lain (entah ibunya,
ayahnya, kakaknya, atau temannya dll).(2)
Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit.
Mengalir apa adanya.
Nah, sementara menulis, ini memerlukan keterampilan tambahan. Bahkan motivasi
tambahan pula. Karena apa? Karena menulis bukan bakat, karena menulis memang
sangat berbeda dengan berbicara. (3)Banyak
orang bisa berbicara, bahkan fasih meski ternyata ia buta huruf. Sementara
orang yang bisa menulis, sangat mustahil bila ia penderita buta huruf. Mungkin
ini pula yang membedakan kemampuan setiap orang dalam menulis. Intinya, nggak
semua orang bisa menulis, meski berbicaranya sangat fasih dan bahkan
retorikanya bagus. Oya, meski bicaranya tidak bagus, tapi minimal ia memang
bisa bicara. Bisa berkomunikasi secara verbal (kata-kata) dengan orang lain.
Iya nggak?
Jadi menurut saya sih, orang yang bisa menulis adalah orang yang seharusnya
merasa bahagia. Karena apa? Karena bisa melakukan keterampilan yang jarang
dilakukan oleh orang yang sehat dan normal lainnya. Umumnya, semua orang yang
sehat dan normal bisa berbicara, tapi tak semua dari mereka bisa menulis. Ini
pun dikelompokkan jadi dua: pertama, orang yang tidak bisa menulis sama sekali
alias buta huruf; dan kedua, orang yang tidak bisa menulis dalam pengertian
menyampaikan pesan lewat tulisan. Dari dua kelompok itu, mereka sama-sama bisa
berbicara, tapi nggak bisa menulis. Betul ndak?
Ayo menulis!
(4)Alirkan ide-idemu untuk berkarya
lewat tulisan.(5) Rugi banget kalo
sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat
tulisan. Padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding
berbicara. Kita emang bisa menyampaikan pesan lewat kata-kata (berbicara),
tapi tak selamanya pesan bisa sampe dengan mudah. Jika kamu menelepon
seseorang, ingin mengerahkan kemampuanmu untuk menyampaikan kehebatanmu dalam
berbicara untuk mempengaruhi dia, sementara ponselnya pas kamu nelepon nggak
diaktifkan, itu artinya ada hambatan. Apa yang ingin kamu sampaikan menemui
jalan buntu. Minimal harus menunggu sampe ponsel temanmu diaktifkan.
Dan lagi nih, kamu tentunya nggak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siap
untuk menelepon. Adakalanya, kamu justru berada dalam kondisi harus menyampaikan
pesan lewat tulisan. Misalnya kamu sibuk, sementara untuk memberi tahu teman
kamu dengan berbicara di telepon akan memakan waktu, apalagi kalo kamu seneng
ngobrol. Maka, langkah efektif adalah dengan mengirim SMS ke ponselnya, atau
mungkin kirim e-mail, atau bisa aja nulis memmo untuknya karena ketika kita
sampe ke rumahnya dia nggak ada. Kita tempelin deh memmo berisi pesan tertulis
kita. Tapi, itu pun masih dengan catatan: ia aktifkan ponselnya; buka e-mail,
dan tak sedang keluar kota. Berarti ini soal kendala teknis. Terlepas dari itu,
keterampilan menulis tetap harus dimiliki. Minimal sebagai keterampilan
pelengkap untuk menyampaikan pesan bagi yang sudah terbiasa dan mahir
retorikanya dalam berbicara. Setuju?
Sobat, nggak usah dibikin rumit ketika kita akan menulis. Saya juga termasuk
yang bisa menulis bukan berawal dari teori. Saya menulis, kalo saya pengen
nulis apa yang membuat saya lega ketika menuliskannya. Saya menulis surat buat
teman dan orangtua saya, menulis puisi, menulis catatan harian, bahkan saya
menulis cerpen meski ketika dibaca lagi seringnya nggak nyambung. Tapi, saya
berkeras ingin bisa menulis. Waktu SMP, ketika seneng nulis, saya nggak punya
mimpi jadi penulis. Saya hanya seneng aja setiap kali membaca buku sejak SD.
Dalam pikiran saya, “Saya bisa membaca dan mudah untuk mengerti pesan yang
disampaikan penulisnya, pasti si penulis itu adalah orang yang hebat dalam
menyampaikan pesan secara tertulis.” Sejak saat itu saya secara sederhana ingin
juga bisa menulis. Tapi tetep belum kepikiran ingin jadi penulis.
Hasilnya? Alhamdulillah, rupanya pembiasaan dalam menulis apa saja yang ingin
saya tulis, sekaligus sebagai latihan ‘alamiah’ untuk melancarkan jari tangan
saya menulis (waktu itu saya belum punya mesin tik, apalagi komputer). (6)Kebiasaan saya menulis bukan hanya
melancarkan jari tangan saya menulis di kertas, tapi sekaligus melatih pilihan
kata yang hendak saya tulis dan juga melancarkan sistematika dalam alur
penulisan pesan yang saya inginkan. Inilah uniknya keterampilan menulis.
Setidaknya menurut saya, lho.
Jadi, biasakan untuk melatih menulis. Terus dan terus. Nggak usah ada beban
dulu. Pokoknya nulis. Jangan takut salah, nggak perlu khawatir tulisannya nggak
enak dibaca, yang penting mencoba dan terus belajar. Salah-salah dikit sih kita
bisa menghibur diri dengan nyontek semboyan di iklan pembersih pakaian, “Nggak
ada noda, ya nggak belajar”. (7)Menulis
itu butuh ketekunan, jangan patah semangat jika baru nulis sekali dan jelek.
Itu belum cukup, kalo kamu nggak terus melatih diri untuk menulis. Bukankah
benteng Mesir tidak ditaklukkan dengan sekali peperangan? Bukankah ketika kita
belajar menuliskan abjad dan angka saja nggak sekali langsung bisa? Ya, belajar
menulis tidak instan, tapi harus ditekuni dan sabar, serta penuh semangat, plus
motivasi kuat.
Oya, sebenarnya bicara juga membutuhkan keterampilan tambahan, meski awalnya
‘naluriah’, tapi tetap kudu dipelajari bagaimana santun dalam berbicara,
berkata yang baik, dan apa yang harus dikatakan dengan tepat kepada siapa yang
diajak bicara. Nah, untuk tingkat lanjutannya sih memang harus belajar juga. (8)Sama seperti menulis. Tapi, langkah awalnya
aja yang beda. Start-nya yang beda. Kalo berbicara, secara ‘naluriah’ sejak
kecil kita yang sehat dan normal langsung udah belajar dan bahkan bisa bicara,
sementara menulis (menuliskan abjad dan angka), minimal rata-rata bisa nulis
secara umum adalah ketika kita diajarin di sekolah (meski sebelum sekolah kita
udah pada bisa bicara). betul nggak?
Sobat, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin tekankan bahwa ada yang perlu
diperhatikan dan diingat, bahwa jika kita nggak bisa menulis dengan baik, maka
pesan itu pun sulit juga dimengerti oleh pembaca tulisan kita. Sebagai pemberi
pesan (komunikator), tentunya kita harus sebaik mungkin dalam menyampaikan
pesan agar mudah dipahami oleh komunikan alias si penerima pesan. Tentunya,
untuk semua itu yang dibutuhkan bukan hanya kebiasaan kita menulis, tapi juga
ilmu dan wawasan buat tambahan kita. Yup, agar pesan yang kita sampaikan juga
dimengerti, bahkan dipahami dengan mudah oleh penerima pesan. Soal ini, insya
Allah akan saya jembrengin di lain kesempatan. Setuju ya?
Oke deh, sampe sini dulu. Insya Allah lain kali saya cerita lagi. Ayo menulis!
[o. solihin. bogor, 9 Januari 2006; 09:25 wib]
Pilihan kalimat :
- Itu memerlukan
pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi.
S P Ket
Kalimat ini tidak sempurna kata itu
akan lebih baik jika ditambahkan kata yang dijadikan acuan dari “itu” tersebut.
Menjadi :
Berbicara itu memerlukan pembiasaan
sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi.
- Mereka (termasuk
kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit
S P S P
- Banyak orang bisa
berbicara, bahkan fasih meski ternyata ia buta huruf.
S P KM S Ket
- Alirkan ide-idemu untuk
berkarya lewat tulisan
S P
- Rugi banget kalo
sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita
inginkan
S P O
lewat tulisan. Padahal, itu sangat
unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara.
KM S P
Kalimat ini menunjukkan kesalahan
pada kata penghubung, seharusnya kata penghubung tidak digunakan tanda titik
sebelum penggunaan kata hubung (padahal) tersebut.
Menjadi :
Rugi banget kalo sampe nggak mencoba
untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat tulisan padahal, itu
sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara.
- Kebiasaan saya menulis
bukan hanya melancarkan jari tangan saya menulis di kertas,
tapi
S P O KM
sekaligus melatih pilihan kata yang
hendak saya tulis dan juga melancarkan sistematika dalam
S P KM S
alur penulisan pesan yang saya inginkan
Ket
- Menulis itu butuh
ketekunan, jangan patah semangat jika baru nulis sekali dan
jelek.
S P S P
KM Ket
- Sama seperti menulis.
Tapi, langkah awalnya aja yang beda.
S P KM S P
Pada kata penghubung terjadi
kesalahan karena penggunaan titik pada kata penghubung, dimana seharusnya kata
penghubung tidak mengandung titik.
Menjadi :
Sama seperti menulis tapi, langkah
awalnya aja yang beda.